Review Poco F8 Pro - Snapdragon 8 Elite & Telefoto 50MP Nyaris Sempurna, Kalau Saja Tanpa Iklan!

Ismail Fikri
By -

Bicara soal Poco F Series, kita sedang membicarakan lini ponsel yang punya pengikut fanatik selayaknya sekte. Sejak kemunculan sang legenda Poco F1, resep mereka tidak pernah berubah: jejali chipset kelas teratas, pamer angka benchmark setinggi langit, lalu jual dengan harga yang sukses bikin pabrikan lain mengurut dada. Namun, memasuki era Poco F8 Pro di tahun 2026, narasi "flagship killer" yang terus mereka dengungkan mulai terasa agak menggelitik. Ketika label harga lini F Pro perlahan terus merambat naik mendekati wilayah ponsel premium sungguhan, status penakluk gawai mahal jelas tidak lagi bisa disandang secara cuma-cuma.. 


Di titik ini, ekspektasi pasar otomatis bergeser. Menjual performa mentah yang kencang tidak lagi cukup untuk membuat konsumen berdecak kagum, karena di rentang harga yang kian bergengsi, kompromi klasik pada sektor kamera sekunder, daya tahan bodi, dan kerumitan antarmuka HyperOS akan semakin sulit untuk dimaklumi. Melalui ulasan ini, kita akan membongkar apakah Poco F8 Pro benar-benar berhasil berevolusi menjadi sebuah gawai all-rounder yang matang di segala lini, ataukah ia masih memainkan lagu lama: monster benchmark berotot kencang yang memotong banyak celah demi mengejar angka di atas kertas.  

Sumber gambar: Xiaomi Indonesia

Spesifikasi Redmi POCO F8 Pro

Rilis
Februari 2026
Jaringan
2G / 3G / 4G / 5G
Dimensi
157,49 x 75,25 x 8,00 mm
Layar
6,59" AMOLED Display
Refresh rate Hingga 120Hz
Resolusi 2510 x 1156 (1,5K)
Sistem Operasi
Xiaomi HyperOS 3 (Android 16) 
Chipset
Snapdragon 8 Elite
GPU
Adreno
RAM & ROM
 12 | 512GB (LPDDR5X | UFS 4.1)
Kamera Belakang
50 MP Kamera utama, 50 MP Kamera telefoto, 8 MP Kamera ultrawide
Kamera Depan
20 MP
Baterai
6.210mAh (Standar), 100W HyperCharge
IP Rating
IP68 (tahan debu total, dan rendaman air)
Sensor
Sensor jarak, Sensor cahaya sekitar, Akselerometer, Kompas elektronik, Giroskop, IR blaster, Sensor kedip, Motor getaran linear sumbu X, Sensor Suhu Warna.  
Warna
Black, Titanium silver, Blue. 
Harga
Mulai Rp 8.699.000
Paket Penjualan
Ponsel, Adaptor, Kabel USB Tipe C, Alat pembuka SIM, Casing pelindung, Panduan memulai cepat, Kartu garansi. 

Kelebihan

  • Performa Mentah Snapdragon 8 Elite Tanpa Ampun: Ditenagai chipset kasta tertinggi Qualcomm Snapdragon 8 Elite yang disandingkan dengan RAM LPDDR5X 12 GB dan penyimpanan internal monster UFS 4.1 berkapasitas 512 GB, POCO F8 Pro menjelma menjadi mesin komputasi brutal. Kehadiran UFS 4.1 menjamin kecepatan read/write data dan loading gim sekelas Genshin Impact atau Honkai: Star Rail berjalan secara instan tanpa hambatan bottleneck. Mau dipakai merender video 4K atau memacu gim kompetitif di setelan grafik tertinggi, ponsel ini melibas semuanya dengan frame rate rata kanan yang sangat stabil.
  • Baterai Jumbo, Charging Kencang: Di saat pabrikan lain masih jalan di tempat dengan kapasitas standar 5.000 mAh, POCO F8 Pro berani mendobrak tradisi dengan menyematkan baterai berkapasitas raksasa 6.210 mAh. Menariknya, kapasitas sebesar ini sukses dijejalkan ke dalam bodi dengan ketebalan yang masih sangat rasional di angka 8,0 mm, mematahkan mitos klasik bahwa HP berbaterai badak harus terlihat setebal dan seberat batu bata. Kapasitas masif ini menjadi garansi mutlak untuk sesi push rank maraton atau perekaman video panjang tanpa harus bolak-balik melirik indikator baterai. Pun ketika daya akhirnya memerah, teknologi pengisian kilat 100W HyperCharge siap memompa penuh tangki dayanya dalam waktu yang sangat singkat. Kombinasi stamina brutal dan waktu isi ulang instan ini adalah suguhan yang sangat memanjakan kaum pengguna kelas berat.
  • Desain Ramping Premium dan Kejutan Audio Racikan Bose:: Selama ini, membeli ponsel beringas beralias "Pocong" sering kali berarti harus rela menelan pil pahit berupa desain bodi seadanya yang kaku bak kotak bekal plastik, lengkap dengan kualitas audio yang nyaring tapi cempreng. Namun, F8 Pro sukses mencuci bersih stereotip murahan tersebut. Dengan ketebalan bodi yang dipangkas hingga 8,00 mm, ponsel ini berhasil mengemas baterai raksasa 6.210 mAh dalam profil yang mengejutkan ramping, solid, dan elegan saat digenggam. Tidak berhenti di urusan kosmetik bodi, POCO juga menyuntikkan kemewahan di sektor multimedia lewat kolaborasi sistem audio ber-tuning Bose. Kehadiran nama besar ini menghasilkan separasi suara yang jauh lebih berdimensi dan presisi, memberikan pengalaman spasial yang mahal baik saat Anda sedang menikmati konser virtual maupun sekadar mengandalkan pendengaran untuk melacak langkah kaki musuh di arena battle royale.
  • Penebusan Dosa di Sektor Fotografi (Kamera Utama OIS & Telefoto 50 MP): Bagi para pengikut setia lini POCO, sektor fotografi biasanya menjadi area yang paling ikhlas untuk "dianaktirikan". Kita sudah terlalu kebal disuguhi lensa makro 2 MP nirfaedah hanya agar modul kamera terlihat ramai. Namun, F8 Pro mengambil langkah penebusan dosa yang sangat radikal. Hengkangnya lensa-lensa gimmick kini digantikan oleh sensor utama 50 MP bersenjatakan OIS (Optical Image Stabilization) yang menjamin jepretan minim blur dan tangkapan malam yang jauh lebih berwibawa. Namun, kejutan paling manisnya justru terletak pada kehadiran lensa telefoto yang juga beresolusi 50 MP, sebuah kemewahan yang biasanya sangat diharamkan hadir di lini POCO demi menekan harga. Kombinasi lensa utama dan telefoto ini memberikan fleksibilitas fotografi yang serius, membuktikan bahwa sang monster performa kini juga bisa diandalkan untuk berburu estetika visual tanpa harus merasa minder saat berjejer dengan flagship belasan juta.

Kekurangan

  • Harga Meroket ke Rp8,7 Jutaan, Antarmuka Masih Disusupi Iklan: Membayar Rp8.699.000 untuk sebuah gawai seharusnya otomatis memberikan Anda tiket VIP menuju pengalaman perangkat lunak yang bersih, eksklusif, dan bebas gangguan. Sayangnya, POCO tampaknya masih kesulitan melepaskan tabiat lama dari DNA "ponsel murah" mereka. Meski sistem operasi sudah berganti baju menjadi HyperOS, Anda masih harus bersiap-siap menghadapi "serangan fajar" berupa kemunculan iklan di beberapa aplikasi bawaan atau rentetan rekomendasi bloatware yang sama sekali tidak Anda butuhkan. Menyematkan iklan pada ponsel kelas entry-level mungkin masih bisa ditoleransi sebagai subsidi silang untuk menekan harga jual, tetapi membiarkan "penyakit" ini menjangkiti ponsel di kelas harga nyaris sembilan juta rupiah adalah sebuah komedi gelap yang seketika meruntuhkan ilusi premium dari bodi ramping dan chipset gaharnya. 
  • Embel-embel "Pro" yang Lupa Bawa Wireless Charging: Membawa status "Pro", bodi ramping elegan, dan harga yang merangsek naik ke angka Rp8,7 jutaan, absennya dukungan pengisian daya nirkabel (wireless charging) pada F8 Pro terasa seperti sebuah "kecolongan" yang sulit dimaklumi. Benar, ia memang dipersenjatai baterai monster dan kabel pengisi daya 100W yang sanggup mengisi penuh tangki dayanya dalam kedipan mata. Namun di tahun 2026, wireless charging di kelas harga ini bukan lagi soal adu cepat, melainkan menyoal kepraktisan dan gaya hidup premium, kemampuan untuk sekadar meletakkan ponsel di atas meja kerja atau dashboard mobil tanpa harus ribet mencari ujung kabel. Ironisnya, ketiadaan fitur ini semakin terasa menampar jika kita mengingat Infinix Note 60 Pro yang harganya "hanya" lima jutaan saja sudah berani menyematkan wireless charging 30W. Celah ini menjadi pengingat pahit bahwa sejauh apa pun POCO mencoba berdandan "elite", mereka tetap akan tega mengebiri fitur lifestyle demi menjaga margin keuntungan dari spesifikasi hardware mentahnya.
  • Ironi UFS 4.1 yang Dicekik oleh Port USB 2.0: Bayangkan Anda memiliki sebuah mobil sport bermesin V8, tetapi dipaksa berjalan di gang sempit yang macet. Analogi itulah yang paling pas untuk menggambarkan keputusan konyol POCO mempertahankan port USB Type-C berstandar 2.0 pada F8 Pro. Padahal, di dalam mesinnya bernaung chipset Snapdragon 8 Elite dan memori penyimpanan UFS 4.1 ultra-cepat yang dirancang untuk mengolah dan membaca data bergiga-giga dalam hitungan detik. Namun, begitu Anda mencolokkan kabel ke PC untuk memindahkan file video 4K hasil rekaman kamera 50 MP-nya, kecepatan transfernya seketika merayap pelan layaknya siput akibat bottleneck alias "leher botol" dari teknologi USB lawas ini. Di harga Rp8,7 jutaan, ketiadaan standar USB 3.x—yang juga berarti tertutupnya pintu untuk fitur display-out (menghubungkan HP ke monitor eksternal secara langsung), adalah sebuah penghematan receh yang sangat menampar embel-embel "Pro" yang disandangnya.

Kesimpulan

POCO F8 Pro adalah sebuah mahakarya performa yang mencoba tampil lebih dewasa dan elegan. Dengan menebusnya di angka Rp8,7 jutaan, Anda tidak hanya sekadar membeli mesin komputasi buas bertenaga Snapdragon 8 Elite, melainkan sebuah paket hiburan komprehensif. Kehadiran baterai raksasa 6.210 mAh dalam bodi ramping 8 mm, sistem audio memukau racikan Bose, hingga gebrakan berani di sektor fotografi lewat duet lensa 50 MP (utama dan telefoto), membuktikan bahwa POCO akhirnya mau keluar dari zona nyaman. Bagi para gamer kelas berat, tech-enthusiast, atau pencari price-to-performance tingkat dewa, F8 Pro memberikan pukulan telak yang sanggup merontokkan ego gawai-gawai flagship yang dibanderol belasan juta rupiah.


Namun, sekeras apa pun ia mencoba berdandan layaknya gawai premium sejati, POCO F8 Pro tetaplah sebuah produk yang lahir dari rahim kompromi khas Xiaomi. Label harga yang kini merangkak naik mendekati sembilan juta rupiah membuat "penyakit" bawaan seperti sisipan iklan di HyperOS, ketiadaan wireless charging, dan ironi bottleneck dari port USB 2.0 terasa sangat mencederai ilusi eksklusivitasnya. Gawai ini jelas tidak dirancang untuk kaum perfeksionis yang mendambakan kemewahan paripurna tanpa celah. Pada akhirnya, POCO F8 Pro adalah pilihan mutlak bagi kaum pragmatis yang rela menutup mata terhadap drama antarmuka dan pemangkasan fitur minor, demi satu tujuan tunggal: merasakan performa mentah kasta tertinggi tanpa harus membobol rekening tabungan hingga kering.

Tags: